TB Hasanuddin Menduga KRI Nanggala 402 Gagal Retrofit Tahun 2012

JAKARTA, LIRIKNEWS, – Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin mengungkapkan bahwa KRI Nanggala 402 itu diretrofit tahun 2012 dengan menghabiskan anggaran sekitar USD 75 juta atau sekitar Rp 1,05 Trilyun.

“Retrofit itu bukan sekedar mengganti suku cadang, tapi diperkirakan juga ada perubahan kontruksi dari kapal selam tersebut terutama pada sistim senjata torpedonya ,” ungkap Hasanuddin, Minggu (25/5/2021).

Di tahun yang sama, kata Hasanuddin, KRI Nanggala 402 melakukan uji penembakan tetapi gagal lantaran torpedonya tak bisa diluncurkan karena systim penutupnya bermasalah. Dalam peristiwa itu 3 orang prajurit terbaik gugur.

Kemudian, tambahnya, kapal selam buatan tahun 1978 itu kemudian diperbaiki lagi oleh team dari Korea Selatan.

“Saya menduga pada hasil perbaikan ini ada hal-hal atau kontruksi yang tidak tepat sehingga KRI Nanggala 402 tenggelam. Ini sangat disayangkan,” kata Hasanuddin.

Hasanuddin meminta agar kapal selam sejenis yakni KRI Cakra 401 sebaiknya digrounded saja dulu. “Jangan ada lagi korban prajurit,” ujarnya.

Selain itu, Hasanuddin juga menyoroti jumlah kru KRI Nanggala 402 yang melebihi kapasitas. Menurutnya, jumlah kru maksimal kapal selam itu mestinya hanya 38 orang.

‚ÄúPada saat hilang kontak KRI Nanggala 402 itu membawa 53 awak, artinya kelebihan beban 15 orang. Ada apa kok dipaksakan ?. Saya juga mendapat informasi bahwa saat menyelam KRI Nanggala 402 diduga tak membawa oksigen gel, tapi tetap diperintah untuk berlayar,” tandasnya.

Oleh karena itu, Hasanuddin pun mengaku rasa prihatin yang mendalam atas tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402.

“Kami mengucapkan rasa prihatin dan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas tenggelamnya KRI Nanggala 402 yang menyebabkan gugurnya 53 orang syuhada TNI ,” katanya.

Sementara itu dilokasi yang berbeda, menurut keterangan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono, bahwa Kapal Nanggala 402 dinyatakan hilang kontak pada pukul 03:00 WITA di wilayah utara perairan Bali pada Rabu (21/4) lalu.

“Hingga kini kapal selam belum ditemukan sedangkan lama oksigen yang dimiliki oleh kapal selam buatan Jerman hanya hingga pukul 03:00 WITA Sabtu ( 24/4),” ungkap Yudo ketika memberikan keterangan pers di Lanud Ops Ngurah Rai, Bali, Sabtu (21/4).

Setelah 4 hari pencarian intensif, lanjutnya, kemarin Sabtu (24/4) sejumlah benda yang berhasil ditemukan di dekat lokasi tumpahan minyak antara lain pelurus torpedo, pipa pendingin dengan tulisan Korea Selatan, alas yang dipakai oleh ABK untuk salat, solar hingga pelumasan untuk naik turun periskop kapal selam.

Selain itu ditemukan juga sponge untuk menahan panas di dalam lambung kapal sehingga tidak terjadi kondensasi.

“Benda-benda ini diyakini oleh para mantan ABK Kapal Nanggala milik kapal selam Nanggala 402,” tutup Yudo. (Ris/**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *