Menu
Close
  • Halaman

  • Redaksi

Liriknews.com

Berita Sesuai Fakta

Enam Ekor Owa Jawa Dilepasliarkan di Gunung Malabar

Enam Ekor Owa Jawa Dilepasliarkan di Gunung Malabar

Smallest Font
Largest Font

CIMAUNG – Sebanyak tiga pasang owa jawa (Hylobates moloch) dilepasliarkan di Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mereka sempat direhabilitasi di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sebelum dilepaskan ke alam liar, enam ekor owa Jawa itu menjalani proses adaptasi habitat atau habituasi di Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar.

Pelepasan itu dilakukan Selasa (27/10). Tiga pasang owa itu terdiri dari pasangan Labuan-Lukas, Ukong-Gomey, dan Nofri-Yossi.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Wahju Rudiato melalui Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasioal Wilayah III Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Dadang Suryana mengungkapkan, ada tiga pasang Owa Jawa yang dilepas liarkan di Gunung Puntang.

“Pelepasan berjalan lancar,” ujar Dadang saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (27/10).

Hewan endemik tersebut, kata Dadang, merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh Yayasan Owa Jawa bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Ini merupakan satwa yang ketiga puluh dari yang kita rilis. Jadi ada enam, berarti satwa yang ke 24 sampai ke 30. Pelepasan Owa Jawa ini, sementara hanya di Gunung Puntang.

“Karena populasi Owa Jawa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sudah cukup stabil, maka hasil rehabilitasi itu tidak lagi dilepas liarkan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sehingga, Yayasan Jawa membangun kerjasama dengan Perum Perhutani yang mengelola Gunung Puntang ini,” katanya.

Dadang menjelaskan rehabilitasi itu dilakukan terhadap Owa Jawa yang diserahkan oleh masyarakat, dan juga diperoleh dari hasil penyitaan kegiatan penegakan hukum. Tujuan dari kegiatan rehabilitasi ini adalah mengembalikan sifat liar Owa Jawa. Karena, kata Dadang, apabila Owa Jawa sudah dipelihara orang, maka perilakunya bisa berubah.

Menurutnya, apabila sudah direhabilitasi maka sifat liar Owa Jawa bisa kembali, mampu mencari makan sendiri, tidak takut pada manusia, dan bisa menyelamatkan diri dari predator.

“Saat ini ada di Pusat Rehabilitasi Owa Jawa atau Javan Gibbon Center di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, masih ada sekitar sepuluh ekor lagi. Jumlah tersebut bisa saja berkurang, karena mati dipusat rehabiltasi, atau bertambah karena beranak di pusat rehabilitasi, atau ada juga input baru dari hasil penyerahan atau hasil operasi penegahakan hukum,” jelas Dadang.

Dia juga menjelaskan, bahwa Owa Jawa ini merupakan binatang yang dilindungi, adapun kriteria binatang yang dilindungi adalah jumlanya sedikit, terjadinya penurunan populasi dialam, dan jenisnya endemik.

Dengan adanya rehabilitasi dan kemudian dilepas liarkan ke alam, Dadang berharap populasi Owa Jawa bisa meningkat. Apalagi, Owa Jawa ini merupakan binatang endemik karena hanya ditemukan di Pulau Jawa.

“Owa jawa memiliki peran penting dalam merestorasi hutan secara alami dengan menyebarkan benih. Konservasi hutan dan satwa seperti owa di antaranya pelestarian dari ancaman kepunahan di habitat alaminya. Akibat perburuan, perdagangan serta kehilangan habitat melalui pelepasliaran. Sehingga kami berharap dengan pelepasan ke alam bisa meningkatkan populasi Owa Jawa di alam,” tandasnya. (Jul)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow