Kalangan Perempuan Dimanfaatkan Kelompok Radikalisme

BANDUNG, LIRIKNEWS – Terduga teroris di Gereja Katedral Makasar dan Mabes Polri Jakarta beberapa hari lalu merupakan dua orang perempuan. Saat ini kaum perempuan menjadi andalan kelompok radikalisme.

“Kaum perempuan bukan hanya saat ini saja menjadi andalan kelompok radikalisme. Tetapi, semenjak saya masuk kelompok radikalisme pada tahun 2000 hingga 2003, kaum perempuan kerap dilibatkan dalam gerakan radikalisme,” ungkap Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan dihubungi via telepon, Jumat (2/4/2021).

Dikatakan Ken, bahwa perempuan sangat mendominasi dalam aktivitas kelompok radikal antara lain untuk menggalang dana. Bahkan, lanjut Ken, saat dirinya masih di NII hanya kaum perempuan yang diandalkan.

“Ketika saya bergabung, kaum perempuan di manfaatkan untuk Penggalangan dana, perekrutan anggota baru, perempuan itu cukup menjadi andalan,” kata Ken.

Kala itu, lanjut Ken, pihaknya hanya dengan mengandalkan lima orang perempuan, dan dalam satu hari bisa mendapatkan dana yang cukup banyak. Dokumen lima orang tersebut kemudian dipalsukan KTP, ijazah, dan Kartu Keluarganya.

“Dulu, semua dokumen tersebut bisa dipalsukan dalam satu jam dan bisa langsung jadi. Setelah dokumen selesai, kita pun langsung membeli banyak koran untuk mencari lowongan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga,” jelasnya.

Setelah lima orang perempuan tersebut mendapatkan pekerjaan di rumah elit yang menjadi sasarannya, lanjut Ken, tidak lebih dari satu minggu mereka (Kaum perempuan) bisa meraup harta benda majikannya.

“Ketika mereka sudah masuk ke rumah sebagai pembantu, dan apabila rumah itu dalam keadaan kosong langsung menghubungi kita, dan kita langsung datang dengan membawa kendaraan untuk membawa harta benda yang berharga dan gampang dijual,” jelasnya.

Menurutnya, bagi mereka yang sudah terpapar radikalisme, harta orang yang berada di luar kelompoknya halal untuk diambil.

“Kita menganggap harta di luar kelompok boleh diambil, karena menganggap harta orang kafir, atau harta musuhnya, lalu dipergunakan untuk perjuangan, dan kita serahkan kepada pimpinan,” jelasnya.

Dia pun menjelaskan, cara merekrut para korbannya agar masuk ke kelompok radikal, pihaknya selalu mencekok para korbannya dengan doktrinisasi terus menerus.

“Dengan sedemikian rupa kita cekoki mereka, karena satu korban melawan lima perekrut, sehingga korban tersebut kalah adu argumentasi. Setelah di doktrin lalu diputus komunikasi agar korban tersebut tidak menyampaikan kesiapapun termasuk keluarganya sendiri,” katanya.

Sementara itu, Ken pun berharap agar kawan-kawan nya segera sadar.

“Pasalnya kita sudah di adu domba antara suku agama, dan dengan yang seagama kita dibuat ribut, itu sebenarnya endingnya,” kata Ken.

Ken juga mengimbau kepada masyarakat, agar tetap waspada, namun jangan sampai takut karena target mereka memang membuat takut masyarakat.

“Sehingga, apabila kita takut maka mereka sukses membuat propagandanya di masyarakat,” tandasnya. (Ris/**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *