Pandemi Covid-19 Mempengaruhi Pendapatan Petani Kopi

  • Bagikan

GARUT – Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) yang terus merebak di Indonesia mempengaruhi keadaan masyarakat, baik sosial, pendidikan, agama, serta ekonomi.

Anjuran pemerintah untuk di rumah saja, berdampak positif pada pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19, tapi di sisi lain ikut mempengaruhi pendapatan petani. Salah satunya adalah keluhan yang disampaikan petani kopi Jawa Barat.

Ketua Paguyuban Tani Sunda Hejo, Hamzah Fauzi mengungkapkan, bulan Mei hingga tiga bulan kedepan, sebagian besar kebun kopi Indonesia akan memasuki masa panen raya. Namun, pandemi Covid-19 mengharuskan kafe, kedai kopi, dan restoran tutup. Permintaan kopi pun semakin berkurang.

“Akibat Covid-19, saat ini pembelian kopi berkurang, karena kedai kopi yang di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan wilayah lainnya pada tutup, meski ada yang buka namun tetap dibatasi waktunya dan pengunjungnya pun sangat sedikit,” ungkap Hamzah saat di wawancara melalui telepon seluler, Jumat (1/5).

Hamzah pun mengatakan, kuota permintaan kopi dari tiap pasar di kota menurun. Namun, ada komoditi yang melonjak secara tajam dan ada juga yang menurun. Saat ini, katanya, petani yang mendapatkan hasil yaitu petani rempah-rempah, seperti kunyit, jahe, sereh, dan lain-lainnya. Harga rempah mengalami kenaikan karena seolah-olah rempah-rempah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

“Namun untuk petani kopi jelas-jelas terdampak, karena di hilir banyak yang tutup, eksportir ga jalan karena pelabuhan di luar negeri pun tutup, dan kedai-kedai pribumi pada tutup juga, artinya ekonomi tidak jalan, sedangkan masa panen di depan mata. Stok kopi di musim kemarin masih ada, karena seharusnya saat ini sudah habis, akibat Pandemi Covid-19 stok masih ada,” kata Hamzah.

Menurutnya, efek Covid-19 berbagai sektor terdampak, contohnya petani yang biasa pasar normal namun saat ini order dari pasar berkurang karena permintaan berkurang, sektor wisata pun pada tutup, dan petani kopi mengalami penurunan sangat tajam.

“Sehingga pemain tengah pun seperti kita posisinya mandeg bahan baku tak terjual, sedangkan saat ini masa panen jadi dilematis, karena bahan baku yang kemarin masih ada, tahun ini menjelang panen lagi, sehingga modal mengendap di bahan baku, pasalnya sirkulasi ekonominya tak jalan,” jelasnya.

Meski saat ini menjelang panen, pihaknya masih menerima kopi gelondongan dari petani. Meskipun berat, karena harga Internasional kopi turun drastis, dan pasar besar kopi berada di Amerika serta Eropa, sedangkan Amerika dan Eropa sangat terdampak oleh Covid-19 di dunia.

Sehingga, pihaknya membeli kopi dari petani dengan harga yang minim. Pasalnya, saat ini belum ada kontrak pembelian kopi, tetapi pembelian kopi dari petani lebih kepada spekulasi dan moral terhadap situasi petani yang menghadapi panen, walaupun kekuatan kas pelaku usaha tidak tau bertahan sampai kapan.

“Meski kondisi seperti ini, kami tetap masih menerima kopi dari para petani, karena apabila tidak ditampung hasil panen mereka mau di jual kemana, kalau didiamkan petani akan lebih rugi lagi, tak ada penghasilan sama sekali,” ucapnya.

Lebih lanjut lagi, dia mengatakan, bahwa Paguyuban Tani Sunda Hejo ini mendampingi 4.800 petani, dari berbagai wilayah di Jawa Barat, diantaranya Bandung, Garut, Cianjur dan wilayah lainnya.

Oleh karena itu, semenjak Covid-19 ini mewabah di Indonesia, pihaknya telah mengimbau kepada para petani agar menanam ketahanan pangan di halaman rumah untuk konsumsi pribadi, pasalnya wabah Covid-19 ini tidak tau kapan selesainya. Sehingga harus antisipasi sejak dini.

“Kami pun berharap semoga wabah Covid-19 ini cepat berlalu dan perekonomian bangkit kembali,” tandasnya. (Jul)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *